Ada Apa dengan Rumah Mertua?

Siang itu, pesawat take off dengan sedikit goncangan karena berawan walau cuaca cerah. Anakku yang sedang mencoba kursi pertamanya di pesawat, terlihat takut sambil menahan air mata dan berceletuk “Mau rumah Atong, rumah Atong”. Aku dan suami antara geli dan juga sedikit panik, mencoba menenangkan sambil terus memeganginya agar tetap duduk aman dikursi.

Alhamdulillah, saat landing di jakarta pesawat minim goncangan dan anak pun tidak ketakutan. Di taxi perjalanan ke depok pun anakku terus berceloteh, ‘Oh sudah happy lagi dia’ gumamku. Namun sesampainya di depan rumah, dia kembali mennagis sampai berteriak ‘Mau rumah Atong, ndak mau sini’.

Kami yang lelah sempat kelimpungan menenangkannya. Setelah dibujuk sana sini, akhirnya ia mau diajak masuk rumah dan langsung tertidur di kasur. Pengalaman itu memunculkan tanya, ada apa sih di rumah mertua? Kok anak sampai tidak mau pulang ke rumah sendiri? Senyaman itukah di sana?

Rumah masa kecil suami ini berada di bawah gunung tidar, tempat para calon Tentara menimba ilmu. Suasana sejuk dan asri sudah pasti menyelimuti sekitar rumah. Waktu pertama kali menginjakan kaki ke sana pun, langsung terbawa suasana karena masih bisa melihat hamparan padi hijau berdampingan dengan perumahan. Dan yang paling penting adalah anti macet. Hahaha. Rasanya hal ini yang paling dirindukan dari warga ibukota.

Sebuah kenyataan harus aku terima setelah menikah, ternyata aku tidak hanya menikah dengan suami dan keluarganya tetapi juga menikah dengan desanya. Dari awal ngunduh mantu, aku sudah disambut dengan suasana gotong royong yang sangat erat. Seluruh persiapan acara ngunduh mantu dilakukan oleh semua orang di RT 1 tempat mertua tinggal. Catering disajikan khusus oleh para ibu-ibu, para bapak juga sigap menjadi sinoman dibantu para remaja. Sungguh suasana yang sudah jarang ditemui di perkotaan.

Aku sempat bilang ke suami, ‘Kerjasama kayak gini cuma pas nikahan kita mas?’. Ternyata aku salah karena memang ini lah ciri khas desa yang masih dilestarikan hingga kini. Ibu bapak mertua dan para warga bahu-membahu memupuk kekompakan dan saling merangkul serta mengutamakan musyawarah untuk mufakat.

Kekagumanku terus bertambah manakala sudah 2 tahun ini, desa itu merintis menjadi desa tujuan wisata. Beragam kegiatan diupayakan untuk membuat suasana desa menarik. Setiap minggu menjadi jadwal utama RT untuk kerja bakti rutin. Bahkan saat ada warga yang tengah membangun rumah, secara sukarela saling membantu.

Dua acara yang sempat membuat hati bergetar karena rasa syukur dan bahagia yabg membuncah adalah saat perayaan 2 tahun menjadi desa wisata. Siapa sangka si pendatang ini diikutsertakan dalam kegiatan bahkan sampai mendapat award sebagai peserta lomba ‘terjauh’ dalam syukuran milad tersebut. Aku yang merasa dirangkul menjadi tidak sungkan berinteraksi dengan beliau-beliau. Jujur aku kadang masih tidak pede karena ingatanku akan nama mereka sangat payah. Alhasil jika tiba-tiba lupa nama, menyebut bapak ibu mbah dan senyuman adalah modal awalku membuka obrolan. Hehe. Sssttt ini rahasia ya.


Acara kedua adalah sebuah festival budaya yang perdana dihadirkan di sana. Untuk ukuran RT, patut diacungin jempol bisa sukses membuat acara yang diikuti peserta kabupaten sebelah dan ibu wakil walikota turut hadir memberi sambutan. Kepanitiaan? Sudah tentu seluruh warga RT menjadi panitia tanpa terkecuali alih-alih EO besar ternama. Dari sana aku belajar jika hal yang dikira mustahil akan bisa terwujud jika ada niat dan kerjasama yang baik. Lagi-lagi kekompakan warga diacungin jempol, kali ini empat jempol hehe.

‘Kok enak banget sih mak disana?’

‘Nggak pernah bosen ya?’

‘Hubungan dengan Mertu baik-baik saja ya?’

‘Pasti nggak pernah ngerasain konflik? ‘

Hmm hubungan dengan sesama manusia pasti ada kalanya tidak mulus bukan? Dengan anak sendiri pun ada saatnya kita tidak sependapat atau ngeyel-ngeyelan. Tapi semua itu bisa diatasi dengan komunikasi. Sedikit sharing cara ala aku menyesuaikan diri saat berada di mertua agar tetap nyaman berkunjung kesana. Hehe

  • Heart to heart

Memulai obrolan itu susah susah gampang apalagi dengan orang baru dan masih mendalami karakter. Tapi untuk urusan ngobrol dengan mertua, aku lebih terbuka alias bisa ngobrol apa saja dengan ibu mertua. Mungkin karena tidak dekat dengan Bapak kandung jadi masih terbawa suasana ke Bapak mertua juga. Hehe

Walau ngerasa canggung awalnya membuka obrolan dengan mertua, rasanya harus dicoba agar bisa tahu karakter pemilik surganya suami. Biasanya aku akan kepo tentang kegiatan kampung atau kegiatan yang bumer sedang lakukan. Cara kedua adalah curcol sambil aktivitas di dapur hehe. Bisa soal masakan sampai hal sesnsitif tentang kisah hidup. Karena pasti mertua juga senang mendengar kisah menantunya agar lebih tahu dan memahami.

Dari sana apa menjamin tidak ada konflik? Lebih tepatnya meminimalisir konflik. Aku yakin, mertua juga pasti ada yang nggak kliknya dengan sikap dan sifat cuma karena ada komunikasi tadi jadi bisa lebih memahami. Dan dari obrolan ringan tadi tidak jarang menjadi obrolan yang dalam dari hati ke hati. Tentu saja tetap posisikan beliau adalah orang tua kita sendiri.

  • Mencari teman baru

Awalnya merasa kesepian tiap ke rumah mertua, mungkin karena merasa sendiri. Tidak punya teman main. Jadi saat disana mentoknya main ke alun-alun, kulineran atau ujung-ujungnya ngemal itu pun main dengan anak lalu pulang. Kok bosan ya, di depok juga aktivitasnya begini.

Seru sepertinya kalau punya teman main disini. Caranya? Cari teman online yang satu kota dengan rumah mertua untuk diajak meet up offline hehe. Inilah yang aku lakukan 2 tahun belakangan ini. Teman online di komunitas WAG yang biasanya hanya bercengkrama lewat layar HP, aku ajak untuk ketemuan saling berkenalan di dunia nyata.

Ini salah satu yang membuatku bersemangat setiap kali diajak mudik. Bertemu dengan teman-teman baruku disana, saling tukar oleh-oleh dan rumpian menjadi suntikan anti kebosanan walau harus tinggal lama di rumah mertua. Bisa dibilang sarana me time ku. Hehe

  • Kepo dengan sekitar

Interaksi dengan keluarga besar atau tetangga menjadi salah satu hal yang membuat nyamam selama di rumah mertua. Sembari mengajak anak bermain di luar rumah sekaligus Say Hi! Ke tetangga. Atau ikutan nimbrung saat ada ibu-ibu berkumpul. Berawal dari sapaan bisa sekaligus ikut obrolan walau kadang roaming jika menggunakan bahasa jawa alus haha. Kalau sudah begini, senjata utamanya adalah senyum sambil memperhatikan obrolan. Hihi

Dari tidak tahu menjadi paham, dari belum peduli menjadi ingin ikut kontribusi.

Ada mimpi besar, ingin membuat workshop public speaking disana. Mengingat target wisata ke desa bukan hanya wisatawan lokal tetapi sering juga wisatawan mancanegara main kesana.

Ah, Pantas saja anakku betah disana karena aku pun juga nyaman dan hati senang berinteraksi dengan lingkungan sana.

Yuk, kapan-kapan mampir dan main di Desa Tidar Campur, Kampung Warna Warni, Kota Magelang!

Diterbitkan oleh yuanitalk

always become your guiding star

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: